Menulis buku sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh khalayak ramai. Namun untuk kali ini, lebih ditekankan kepada para mu’alim sebagai wasilah untuk mengabadikan ilmu agama.
Sebab tidak sedikit buku yang dihasilkan oleh sebagian orang belum memiliki faidah yang dibutuhkan umat. Oleh karenanya, sangat dianjurkan bagi para mu’allim untuk memiliki kemampuan menulis sebagai bagian dari mengabadikan ilmu.
Dalam kitab tadzkiratussami wal mutakallim fii adab al-alim wal muta’alim, terdapat penjelasan mengenai anjuran menulis pada saat memiliki kapasitas untuk menulis. Hal ini bersamaan dengan ditekankannya seseorang harus didasari dengan keutamaan yang sempurna dalam isi tulisannya dan kapabilitas yang baik.
BACA JUGA: 3 ALASAN PENTINGNYA IKHLAS BAGI PENUNTUT ILMU

Apabila sudah bisa dipastikan demikian, maka menyibukan diri dengan menulis, mengumpulkan dan menyusun karya tulis sudah seharusnya dilakukan. Adapun manfaat bagi seorang mu’allim, selain dengan tujuan mengabadikan ilmu agama ialah sebab dengan menulis akan membuatnya mengetahui hakikat berbagai bidang pengetahuan dan bagian-bagian ilmu yang cermat. Karena menuntut ketekunan dalam mencari dan menelaah, mengkaji dan memuraja’ah.
Serta menulis buku pun, sebagaimana yang dikatakan al-Khatib Baghdadi, “Menguatkan daya ingat, menajamkan hati, menghidupkan tabiat, membaguskan kemampuan untuk menjelaskan, mendatangkan sanjungan yang baik dan pahala yang besar, dan mengekalkan namanya hingga akhir zaman.”
Tentunya untuk mencapai tujuan mengabadikan ilmu agama, para mu’alim harus memperhatikan bidang yang manfaatnya menyeluruh dan banyak diburuhkan. Hendaknya menulis suatu ilmu agama yang jarang ditemui dan tentunya dengan penggunaan kata yang jelas.
Perlu dihindari juga agar tidak menjelaskan panjang lebar yang membosankan atau meringkas yang tidak menunaikan tujuan. Sebab capaiannya untuk mengabadikan ilmu agama, maka dalam kitab ini pula diingatkan agar tidak mengeluarkan atau menerbitkan buku yang ditulisnya sebelum mengeditnya, mengkaji, dan menatanya secara berulang-ulang.
Baca Juga: PUNYA PERPUSTAKAAN PRIBADI? BEGINI ADAB MENJAGA KITAB DI DALAMNYA
Diantara para mu’alim ada yang masih enggan menulis buku untuk mengabadikan ilmu agama, padahal bagi siapa saja yang sudah menguasai suatu bidang keilmuan maka tidak ada alasan untuk menghindarinya. Sebab apabila menulis tidak dilakukan para mu’alim maka bisa jadi akan banyak buku dengan kisah-kisah mubah atau lainnya sehingga akan membuat ilmu syariat diingkari dan dipandang buruk.
Meskipun bagi mereka yang belum menguasai suatu keilmuan, menghindari menulis sangat dianjurkan. Sebab nantinya kandungan tulisan bukanlah mengabadikan ilmu agama, namun justru mengandung kebodohan dan menipu siapa saja yang membaca bukunya. Lebih buruk lagi hal ini menyia-nyiakan usianya sebab melakukan sesuatu yang tidak dikuasainya dengan baik.
Wallahu’alam []

